Home » Uncategorized » Rumah Pengemasan (Packing House)

Rumah Pengemasan (Packing House)

PH

  1. PENDAHULUAN

Seiring dengan meningkatnya taraf hidup dan kesadaran masyarakat akan pemenuhan gizi yang seimbang, maka permintaan produk hortikultura juga meningkat. Hortikultura terutama buah dan sayuran merupakan salah satu sumber gizi berupa karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan air serta serat yang bermanfaat bagi kesehatan. Saat ini produk hortikultura tidak hanya dinilai dari rasa, namun juga dari penampilan fisik seperti keseragaman ukuran, warna dan bentuk serta kemulusan kulit. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah segi kesehatan, kelestarian lingkungan, penampilan, dan kemasan sehingga mampu meningkatkan nilai jual. Tuntutan konsumen saat ini adalah mendapatkan produk hortikultura yang bermutu dan aman dikonsumsi.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan penanganan pasca panen yang baik. Penerapan penanganan pasca panen masih sangat jauh dari harapan. Saat ini, tingkat kehilangan hasil komoditas hortikultura masih tinggi. Padahal jika petani memperhatikan dan menilai penting penanganan pasca panen maka tingkat kehilangan dapat ditekan secara maksimal. Penanganan pasca panen yang baik dapat meningkatkan mutu, daya tahan dan daya simpan produk hortikultura selama proses pengangkutan dan waktu tunggu sampai produk tersebut terjual. Saat ini, penanganan pasca panen baru dapat menekan kehilangan hasil antara 2-5%. Hal ini diakibatkan oleh masih terbatasnya sarana pasca panen dan minimnya informasi yang didapatkan petani. Kerusakan produk hortikultura umumnya terjadi sejak dilakukan pemanenan di lapangan dan berlanjut saat transportasi, ke tempat pengumpulan sementara. Faktanya, banyak petani yang tidak memiliki sarana tempat pengumpulan sementara sebelum komoditi tersebut sampai ke tangan konsumen. Ada yang mengumpulkannya di ruang terbuka, sehingga produk mengalami kontak dengan sinar matahari langsung atau terkena hujan. Ada pula yang mengumpulkannya di gudang/garasi bercampur dengan barang lain/pestisida. Mengingat hal tersebut, adanya packing house (rumah pengemasan) merupakan salah satu upaya untuk dapat mengatasi berbagai permasalahan di atas.

Produk hortikultura sifatnya mudah rusak (perishable). Penyediaan rumah pengemasan dengan segala aktivitas di dalamnya diharapkan dapat menjawab tantangan di atas dan daerah tempat dibangunnya rumah pengemasan mampu menjadi pusat distribusi komoditas pertanian Indonesia, termasuk komoditas berpotensi ekspor. Untuk mendirikan rumah pengemasan sebaiknya mempertimbangkan letak lokasi yaitu berada di daerah yang strategis baik secara geografis maupun ekonomis. Dengan demikian diharapkan keberadaan rumah pengemasan mendapat dukungan dari masyarakat sekitar dan pengembangan pertanian sebaiknya mendukung keberadaan rumah pengemasan tersebut. Sebelum membangun rumah pengemasan diperlukan koordinasi antara para pemangku kepentingan agar memperoleh persepsi yang sama terhadap rencana pembangunan. Kemudian melakukan perencanaan bertahap dan berkelanjutan sampai pembangunan rumah pengemasan terealisasi dan melakukan identifikasi sentra produksi pendukung daerah sasaran, survei pemasaran dan perilaku konsumen. Dari hasil koordinasi tersebut tersusun kajian kelayakan rumah pengemasan secara teknis dan ekonomis di daerah sasaran sekaligus desain rumah pengemasan sesuai kebutuhan. Adapun hasil survei harus memberikan informasi rinci mengenai produksi dan konsumsi hasil pertanian daerah sasaran, hasil pertanian sejenis yang masuk ke daerah sasaran dan hasil pertanian sejenis yang keluar ke daerah lain. Di samping itu, beberapa pemangku kepentingan perlu diajak duduk bersama untuk dimintai saran pendapatnya. Pemangku kepentingan tersebut antara lain: kelompok tani, asosiasi (produsen, pedagang, eksportir, importir), calon pengelola rumah pengemasan, calon investor, bank dan lembaga keuangan lainnya, usaha pelayanan jasa, dan calon wirausahawan.

Kajian kelayakan rumah pengemasan bermanfaat untuk mendorong terealisasinya pembangunan rumah pengemasan di daerah sasaran yang dapat memberikan pelayanan kepada petani di sekitar lokasi rumah pengemasan serta meningkatkan peluang pemasaran ke daerah lain dan luar negeri (ekspor).

  1. KRITERIA RUMAH PENGEMASAN
  2. Kriteria Penentuan Lokasi dan Perencanaan Rumah Pengemasan

Beberapa kriteria penentuan lokasi rumah pengemasan adalah:

Akses jalan raya antar kabupaten, provinsi, bahkan ke luar pulau.

Akses ke salah satu pelabuhan laut dan bandara terdekat bila tersedia.

Memiliki fasilitas komunikasi dan utilisasi (air, listrik), serta akses ke lembaga keuangan.

Memiliki luasan lahan yang cukup sesuai kebutuhan perancangan.

Status lahan memungkinkan untuk dibebaskan, lebih baik bila milik Pemerintah Daerah setempat.

Sementara faktor perencanaan dan desain tapak rumah pengemasan hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Keunikan bangunan yang memberi ciri fisik.

Keleluasaan luas ruang untuk grosir sesuai fungsinya.

Kehidupan bisnis yang perlu didukung ruko, kantor, bank, restoran, dan lain-lain.

Kawasan yang dapat dipakai untuk perdagangan eceran.

 

  1. Dukungan yang Diperlukan

– Peningkatan kemampuan petani daerah sasaran, termasuk adopsi teknologi yang diperlukan.

– Pembangunan rumah pengemasan dan fasilitas pengangkutan dengan pendinginan untuk komoditas tertentu di sentra produksi daerah sasaran.

– Pengendalian impor komoditas pertanian secara ilegal.

– Promosi untuk jejaring dengan pengusaha di luar daerah sasaran dan importir dari luar negeri.

III. PERSYARATAN TEKNIS RUMAH PENGEMASAN HORTIKULTURA

Persyaratan teknis rumah pengemasan meliputi persyaratan lokasi, bangunan, fasilitasi sanitasi, alat produksi dan bahan perlakuan.

  1. Lokasi

Pemilihan lokasi rumah pengemasan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  1. Memiliki akses jalan.
  2. Memiliki akses ke sumber pasokan.
  3. Mendapat ijin lingkungan.
  4. Lahan sesuai untuk kebutuhan usaha.
  5. Lokasi bebas cemaran dan memiliki fasilitas drainase.

  1. Bangunan
  2. Umum

– Bangunan cukup kuat, aman, serta mudah dibersihkan.

– Luas bangunan sesuai dengan kapasitas produksi/skala usaha

– Kondisi sekeliling bangunan bersih, tertata rapi, bebas hama dan hewan berbahaya.

– Bangunan dirancang sedemikian rupa untuk mencegah masuknya binatang pengerat, hama, serangga dan hewan peliharaan.

  1. Tata Ruang

– Bangunan penanganan terdiri atas ruangan penanganan dan ruangan pelengkap yang letaknya terpisah.

– Susunan bagian ruangan penanganan diatur sesuai dengan urutan proses penanganan, sehingga tidak menimbulkan kontaminasi silang

  1. Lantai

Lantai ruang penanganan dari bahan yang kuat, tidak licin dan tidak mudah retak serta mudah dibersihkan.

  1. Dinding dan Langit-langit

– Dinding dan langit-langit ruang penanganan bersifat kedap air, tidak mudah mengelupas dan mudah dibersihkan.

  1. Atap

– Atap terbuat dari bahan yang tidak mudah bocor.

  1. Pintu, Jendela dan Ventilasi

– Pintu dan jendela terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan dan mudah dibuka-tutup.

– Jumlah jendela dan ventilasi pada ruangan penanganan cukup untuk menjamin pertukaran udara dalam ruangan dan ditutup dengan kawat serangga.

  1. Penerangan

– Ruangan penanganan dan ruangan pelengkap dilengkapi dengan penerangan yang cukup.

– Setiap lampu yang digunakan harus dilengkapi pelindung lampu.

  1. Penyediaan Sumber Energi

– Sumber energi tersedia dalam jumlah yang cukup disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan setempat (jaringan PLN atau generator).

  1. Tata Letak Alur Produksi

Tata letak alur penanganan produk memperhatikan hal sebagai berikut:

– Terdiri dari 2 (dua) pintu yaitu pintu masuk dan pintu keluar disesuaikan dengan alur penanganan sehingga komoditi yang akan ditangani dan telah selesai ditangani tidak akan berkontaminasi silang.

– Penempatan sarana penanganan disusun sesuai dengan tata letak urutan tahapan penanganan.

– Luas ruangan penanganan cukup memadai untuk melakukan kegiatan penanganan produk.

 

  1. Fasilitas Sanitasi
  2. Tersedia sarana air bersih dan mengalir.
  3. Tersedia sarana pencuci tangan dan toilet.
  4. Tersedia sarana penanganan sampah.

 

  1. Alat Produksi
  2. Alat dan perlengkapan yang digunakan mudah dibersihkan.
  3. Permukaan peralatan yang berhubungan langsung dengan produk terbuat dari bahan yang tidak berkarat.
  4. Timbangan yang digunakan dikalibrasi secara berkala dan dicatat.
  5. Peralatan yang digunakan dalam penanganan produk disesuaikan dengan proses penanganan yang dilakukan meliputi :

– Meja kerja

– Bak pencucian

– Kereta dorong

– Wadah produk

– Timbangan

– Alat pengemasan

– Pisau dan gunting

– Alat sortasi

– Alat pengkelasan (grader)

– Gudang pendingin (cold storage)

– Tempat penyimpanan kemasan dan bahan kimia

– Alat pengangkut lokal

 

 

  1. Bahan Penanganan
  2. Bahan perlakuan penanganan yang digunakan memenuhi standar mutu atau persyaratan yang ditetapkan.
  3. Bahan perlakuan penanganan yang digunakan belum kadaluarsa.
  4. Tersedia fasilitas penyimpanan bahan penanganan.

 

  1. PENGELOLAAN PRODUK HORTIKULTURA DI RUMAH PENGEMASAN

Proses penanganan pasca panen produk hortikultura dalam rumah pengemasan terdiri dari:

  1. Penerimaan Produk
  2. Pembongkaran produk harus terlindung dari sinar matahari langsung dan hujan serta dilakukan secara hati-hati untuk menghindari kerusakan mekanis.
  3. Produk yang masuk ke rumah pengemasan ditimbang dan dicatat.
  4. Produk ditempatkan dalam wadah sesuai sifat dan karakteristik produk.
  5. Proses Penanganan
  6. Pelaksanaan proses penanganan sesuai sifat dan karakteristik produk.
  7. Pelaksanaan kegiatan pada tahapan proses pelaksanaan penanganan dilakukan sesuai persyaratan yang ditetapkan.

Kegiatan penangan pasca panen produk hortikultura antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Pemilahan

– Proses pemilahan dilakukan dengan menghindari kerusakan mekanis.

– Produk yang telah dipilah ditempatkan dalam wadah yang terpisah.

  1. Pemisahan

Pemisahan dilakukan dengan cara dan alat yang tidak merusak produk.

  1. Pembersihan/pencucian

– Pencucian dilakukan dengan menggunakan air bersih.

– Pencucian buah dapat dilakukan bersamaan dengan pembersihan dengan meng-gunakan alat yang tidak melukai produk.

– Beberapa produk tertentu cukup dilakukan dengan pengelapan

  1. Penirisan

Penirisan dilakukan dengan cara dan alat yang tidak merusak produk.

  1. Pengkelasan

– Pengkelasan dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan mekanis.

– Pengkelasan dilakukan sesuai dengan karakteristik produk dan standar mutu yang berlaku.

– Produk yang telah dipisahkan ditempatkan pada wadah yang terpisah.

  1. Pelilinan

– Pelilinan dilakukan dengan metode, alat dan bahan sesuai karakteristik produk.

– Bahan pelilinan yang digunakan harus aman dikonsumsi (Food Grade).

 

  1. Perlakuan

– Perlakuan dilakukan dengan metode, alat dan bahan sesuai karakteristik produk.

– Bahan perlakuan yang digunakan harus sudah terdaftar.

  1. Pemeraman

– Pemeraman dilakukan dengan metode, alat dan bahan sesuai karakteristik produk.

– Bahan pemeraman yang digunakan harus sudah terdaftar.

 

  1. Pengemasan dan Pelabelan

Kriteria pengemasan dan pelabelan yaitu :

  1. Bahan kemasan mampu melindungi dan mempertahankan mutu produk dari pengaruh luar dan kerusakan mekanis.
  2. Setiap produk yang dikemas dalam kemasan besar menggunakan label dengan kriteria:

– Tidak mudah lepas, luntur atau rusak.

– Mudah terlihat dan terbaca.

– Label pada kemasan memuat informasi identitas produk sesuai dengan kebutuhan (dapat mencakup informasi nama dan varietas buah, nama dan alamat perusahaan eksportir, pengemas dan atau pengumpul, asal buah, kelas, ukuran (kode ukuran atau kisaran bobot dalam gram), serta jumlah buah)

  1. Penggunaan kode produksi disesuaikan dengan persyaratan yang telah ditetapkan.

  1. Produk Akhir

Produk akhir harus dalam kondisi baik yang tidak merugikan dan membahayakan kesehatan.

  1. Penyimpanan
  2. Produk Akhir

– Produk akhir disimpan pada suhu sesuai karakteristik produk.

– Wadah dan fasilitas penyimpanan dapat melindungi produk.

– Tidak dilakukan pencampuran produk berbeda dalam satu wadah.

– Bahan untuk memperpanjang daya simpan sesuai dengan karakteristik produk.

  1. Bahan dan Alat

– Bahan perlakuan disimpan di tempat terpisah yang bersih serta aman dari gangguan serangga dan binatang pengerat.

– Wadah dan bahan kemasan disimpan secara rapi di tempat yang bersih sehingga terlindung dari pencemaran.

– Label disimpan dengan baik dan diatur sedemikian rupa sehingga tidak terjadi kesalahan dalam penggunaannya.

– Alat dan perlengkapan penanganan disimpan dengan baik dan terpisah dari bahan kimia untuk mencegah pencemaran.

 

 

  1. Pengendalian Hama Penyakit Pascapanen
  2. Tersedia prosedur pengendalian hama penyakit pasca panen yang mencakup prosedur:
  3. metode pengendalian terhadap hama penyakit pasca panen.
  4. metode penanganan alat dan bahan.
  5. metode penanganan terjadinya kecelakaan.
  6. Bahan yang digunakan sudah terdaftar.
  7. Penggunaan bahan perlakuan dilakukan oleh tenaga yang kompeten.
  8. Dilakukan pemeriksaan dan pencatatan penggunaan bahan.

 

  1. Kesehatan dan Keamanan Pekerja
  2. Tersedia pedoman kesehatan dan keamanan pekerja.
  3. Pengawasan kesehatan terhadap tenaga pelaksana dilakukan secara berkala.
  4. Tenaga pelaksana pada bagian penanganan menggunakan pakaian kerja dan alat pelindung diri (sesuai dengan proses yang dilakukan).

 

  1. Pengawasan dan Pembinaan
  2. Pengawasan secara berkala dilakukan pada setiap tahapan penanganan pasca panen.
  3. Tersedia form pengaduan.
  4. Tersedia form tindakan koreksi.
  5. Pelatihan tenaga pelaksana dilakukan sesuai kebutuhan.

 

  1. MANAJEMEN RUMAH KEMASAN HORTIKULTURA

Pola pengelolaan rumah pengemasan dapat dilakukan oleh Gapoktan/Kelompok Tani yang dipilih melalui seleksi yang terbuka dan bersifat obyektif. Sedangkan rumah pengemasan dengan nilai pengembangan yang relatif besar pengelolaannya dapat diserahkan kepada manajemen swasta profesional komersial dimana Pemerintah Daerah dan pemangku kepentingan menetapkan peraturan jasa dan tata niaga. Peranan Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Pertanian Kabupaten/Kota turut menentukan pengelola rumah pengemasan atas dasar pertimbangan bisnis dan efisiensi, melalui pengumuman undangan seleksi secara terbuka. Struktur organisasi dapat berdiri sendiri yang merupakan kesepakatan dari Gapoktan dan di bawah binaan Dinas Pertanian Kabupaten/Kota. Bagi daerah yang mempunyai Sub Terminal Agribisnis atau Pasar Tani sebaiknya pengelolaan berada di bawah Sub Terminal Agribisnis atau Pasar Tani.

Menurut Pedoman Desain dan Pengoperasian Rumah Pengemasan Hasil Hortikultura (Ditjen PPHP dan LPPM IPB, 2007) disarankan struktur organisasi minimum dalam pengelolaan Rumah Pengemasan adalah sebagai berikut :

 

 

 

  1. Manajer

Bertanggung jawab mengatur semua kegiatan mulai dari perencanaan, pengadaan jasa, barang modal dan bahan baku, penanganan dan perlakuan, hingga pemasaran serta pengelolaan administrasi dan keuangan.

  1. Bagian Keuangan

Bertanggung jawab terhadap urusan administrasi, kepegawaian dan lalu lintas keuangan termasuk kelengkapan kantor.

  1. Bagian Jasa, Penanganan dan Pemutuan

Bertanggung jawab terhadap penanganan bahan baku di dalam rumah pengemasan, sejak komoditas diterima dari lahan, menjalani proses sortasi dan pengemasan, menentukan jenis dan ukuran kemasan, penyimpanan, hingga siap dipasarkan dan didistribusikan. Di samping itu, bertanggung jawab pula untuk penerapan standar mutu.

  1. Bagian Jasa, Pengadaan dan Pemasaran

Bertanggung jawab terhadap pembelian, menjalin kerjasama dengan mitra petani pemasok dan mengatur pola pasokan, mencari jasa sortasi dan pengemasan. Menjalin kerjasama dengan supermarket, pengecer dan mitra pemasaran lainnya. Bertanggung jawab terhadap pengelolaan informasi.

  1. Bagian Perlengkapan

Bertanggung jawab terhadap peralatan dan mesin beserta perawatannya, bahan-bahan kemasan, gudang pendingin dan kebutuhan lainnya.

 

  1. PENUTUP

Penanganan pasca panen yang baik merupakan salah satu langkah strategis dalam upaya menghadirkan produk hortikultura bermutu dan aman dikonsumsi. Oleh karena itu perlu peran/partisipasi dari semua pemangku kepentingan disamping pembinaan dan sosialisasi yang berkelanjutan.

Rumah pengemasan tidak selalu harus diterjemahkan sebagai bangunan dengan fasilitas lengkap atau modern, namun dapat berupa bangunan sederhana yang memenuhi syarat minimal untuk dapat melakukan aktivitas penanganan pasca panen yang baik. Petani maupun kelompok tani dapat membangun/menyediakan rumah pengemasan sederhana untukdapat menghasilkan produk sesuai standar pasar atau spesifikasi dari mitra usaha, sehingga produk hortikultura yang dihasilkan oleh petani mendapatkan harga yang tinggi dengan posisi tawar petani yang lebih baik. Hal ini akan memberikan keuntungan atau perbaikan pendapatan bagi petani/kelompok tani/Gapoktan. (Ir. Dyah Nuswandari Ekarini, MMA)

You must be logged in to post a comment.