Home » Keamanan Pangan » Pangan Rekayasa Genetika (PRG)

Pangan Rekayasa Genetika (PRG)

GMO

Genetically Modified Food (GMF)/ Pangan Rekayasa Genetika (PRG) berasal dari Genetically Modified Organisms (GMO) atau Organisme Rekayasa Genetika, yaitu organisme yang materi genetiknya (DNA) telah diubah atau dimodifikasi dengan cara yang tidak alami, misalnya melalui pengenalan gen dari organisme yang berbeda. Teknologi ini sering disebut “bioteknologi modern” atau “teknologi gen”, kadang-kadang juga “teknologi DNA rekombinan” atau “rekayasa genetika”. Hal ini memungkinkan gen individu terpilih dapat ditransfer dari satu organisme ke yang lain, juga antar spesies yang tidak terkait satu sama lain (WHO, 2002). Intinya adalah dapat memindahkan gen-gen dari satu spesies mahluk hidup ke spesies yang lain, ataupun memodifikasi gen-gen dalam satu spesies. Produk transgenik mencakup obat-obatan (sebagai alat diagnosis & obat seperti misalnya insulin), tanaman yang tahan hama, penyakit dan herbisida, enzim untuk pengolahan makanan (keju), bahan bakar dan pelarut (ethanol). Tanaman transgenik untuk bahan pangan yang telah dikembangkan antara lain: beras, kedelai, kentang, jagung, minyak lobak, tomat, bit gula dan labu (Putri,2014).

Tujuan awal untuk mengembangkan tanaman berdasarkan organisme rekayasa genetika adalah untuk meningkatkan perlindungan tanaman. Tanaman rekayasa genetika saat ini di pasar terutama ditujukan pada peningkatan tingkat perlindungan tanaman melalui pengenalan perlawanan terhadap penyakit tanaman yang disebabkan oleh serangga atau virus atau melalui peningkatan toleransi terhadap herbisida (WHO, 2002). Namun, Produk Pangan dari Rekayasa Genetika sendiri sampai sekarang masih mengundang banyak kontroversi. Itu dikarenakan terdapat sejumlah manfaat yang menguntungkan dan dampak yang merugikan.

Manfaat menguntungkan dari produk rekayasa genetika meliputi:

  1. Zat gizi lebih banyak
  2. Makanan memiliki rasa lebih enak
  3. Lebih tahan penyakit, hama, virus, dan kekeringan (cuaca)
  4. Penurunan penggunaan pestisida untuk beberapa produk pertanian
  5. Toleransi herbisida
  6. Peningkatan pasokan makanan dengan mengurangi biaya dan umur simpan lebih lama
  7. Cepat tumbuh tanaman dan hewan
  8. Makanan dengan sifat yang lebih diinginkan seperti kentang yang menyerap lebih sedikit lemak jika digoreng
  9. Makanan obat yang dapat digunakan sebagai vaksin atau obat lain
  10. Pemanfaatan rekayasa genetik dalam pembentukan pangan transgenik dianggap sebagai terobosan yang brilian dalam menghadapi kerawanan pangan di masa depan yang dapat diprediksi dari gejala-gejala ketidaktentuan cuaca di beberapa belahan dunia (WHO, 2002; Medline Plus, 2012; Putri, 2014; Web MD, 2014)

Selain memiliki manfaat yang menguntungkan, Genetically Modified Organisms juga memiliki potensi dampak yang merugikan, yaitu:

  1. Tanaman atau hewan yang dimodifikasi mungkin memiliki perubahan genetic yang tak terduga dan berbahaya bagi kesehatan
  2. Organisme yang dimodifikasi dapat kawin silang dengan organisme alami tetapi dapat menyebabkan kepunahan organisme asli atau efek lingkungan yang tak terduga lainnya
  3. Tanaman mungkin kurang tahan terhadap beberapa hama dan lebih rentan terhadap orang lain
  4. Komponen tertentu dianggap dapat memberikan allergen dan racun ke makanan
  5. Kecenderungan untuk memprovokasi reaksi alergi (alergenitas)
  6. Kontaminasi antara makanan yang dimodifikasi secara genetic modified dan non genetic modified
  7. Resistensi antibiotik
  8. Berkaitan dengan stabilitas gen yang disisipkan
  9. Mengubah kandungan zat gizi dari tanaman secara negatif (mengurangi)
  10. Penciptaan “super” gulma dan risiko lingkungan lainnya
  11. Pangan rekayasa genetika juga dapat merusak keanekaragaman hayati, misalnya dengan kebutuhan terhadap penggunaan pestisida tertentu yang terkait dengan tanaman rekayasa genetika yang sangat beracun bagi banyak spesies dan dengan penggunaan gen eksotis dan organism eke dalam lingkungan yang dapat mengganggu komunitas tumbuhan alami dan ekosistem lainnya (WHO, 2002; Medline Plus, 2012; Harvard, 2012; Web MD, 2014)

Produk-Produk Hasil GMO

  1. Kacang Kedelai

Kedelai rekayasa genetik pertama ditanam di Amerika Serikat pada tahun 1996. Lebih dari sepuluh tahun kemudian, kedelai GM ditanam di sembilan negara mencakup lebih dari 60 juta hektar. Kedelai ini GM memiliki gen yang memberikan resistensi herbisida.

Amerika Serikat (85%) dan Argentina (98%) menghasilkan hampir secara eksklusif kedelai GM. Di negara-negara ini, kedelai GM disetujui tanpa pembatasan dan diperlakukan sama seperti kedelai konvensional. Produsen dan pejabat pemerintah di AS dan Argentina tidak melihat alasan untuk membedakan kedelai GM dan konvensional baik pada saat panen, pengiriman, penyimpanan atau pengolahan. Kedelai impor dari negara-negara tersebut umumnya mengandung sebagian besar GM (Anonymousb, 2010).

Kedelai GM pernah tidak diizinkan di Brasil. Namun demikian, benih GM diselundupkan dari negara-negara tetangga dan ditanam secara ilegal. Sekarang, kedelai GM telah disetujui. Pada tahun 2007, 64 persen tanaman kedelai di negara itu adalah rekayasa genetika. Sebagian besar kedelai konvensional Brazil ditanam di bagian utara negara itu. Penanaman skala komersial dalam jumlahbesar kedelai rekayasa genetik juga dapat ditemukan di Paraguay, Kanada, Uruguay dan Afrika Selatan.

Impor kedelai didominasi untuk pakan ternak. Selama pengolahan, kedelai yang diproses untuk menghasilkan minyak, dan minyak yang diperoleh diekstraksi dan dimurnikan untuk penggunaan makanan. Selain itu, kedelai digunakan untuk menghasilkan berbagai bahan makanan dan zat aditif. Lesitin, misalnya, digunakan sebagai emulsifier dalam cokelat, es krim, margarin, dan makanan yang dipanggang (Anonymousb, 2010).

  1. Kapas

Sebagian besar kapas GM ditanam di India dan Amerika Serikat, tetapi juga dapat ditemukan di Cina, Argentina, Afrika Selatan, Australia, Meksiko, dan Columbia. GM kultivar ditanam saat ini resisten terhadap herbisida orinsek hama.
Lebih dari setengah (68%) dari produksi kapas Cina genetik dimodifikasi untuk menghasilkan zat (Bt toksin) yang melindunginya terhadap hama serangga. (Anonymousb, 2010). Produksi kapas GM belum disetujui di Uni Eropa. Aplikasi telah disampaikan, tetapi keputusan masih tertunda. Beberapa baris kapas GM telah disetujui di Uni Eropa, tetapi hanya untuk digunakan sebagai pangan dan pakan.

Di Indonesia, pernah dilakukan penanaman kapas transgenik yang diprakarsai oleh Monsato. Berbekal pengalaman melakukan ekspansi penanaman tanaman transgenik di seantero dunia dan modal yang sangat besar Monsanto mulai masuk ke Indonesia. Kapas sebagai komoditi non pangan dipilih sebagai jalan masuk ke Indonesia, karena resikonya lebih rendah. Menurut Nugroho (2010), diduga jika proyek kapas transgenik ini berhasil, akan dilanjutkan dengan penanaman varietas berikutnya. Hal ini pernah diungkapkan oleh Gubernur Palaguna pada bulan April 2002, bahwa dirinya minta agar tanaman jagung transgenik yang ditawarkan PT Monsanto diuji coba di Sulawesi Selatan selama tiga bulan. Namun, penanaman ini akhirnya gagal.

  1. Beras

Golden Rice adalah beras yang berwarna kuning keemasan dan sangat berbeda dengan beras pada umumnya yang berwarna putih. Beras tersebut merupakan hasil rekayasa genetika, melalui penyisipan gen psy atau gen penyandi phytoene synthase, digabungkan dengan gen crtl atau gen penyandi carotene desaturase. Menurut Anonymousc (2010), kedua gen ini berfungsi untuk memproduksi beta karoten (pro-vitamin A), sebagaimana yang banyak terkandung pada wortel. Gabungan sisipan kedua gen tersebut berhasil meningkatkan kandungan beta karoten hingga 23 kali kandungan beta karoten pada beras keemasan generasi pertama yang ditemukan 5 tahun yang lalu di Swiss. Bahkan dibandingkan dengan tomat dan cabe yang juga mengandung beta karoten, beras keemasan ini masih memiliki kandungan beta karoten yang lebih tinggi.

Selain Golden Rice, peneliti juga mengembangkan varietas baru. Varietas ini dikembangkan di Jepang untuk mengembangkan kultivar padi yang aman dikonsumsi untuk orang-orang yang alergi terhadap beras. Untuk melakukan hal ini, peneliti mencoba untuk menekan aktivitas gen yang mengarah pada pembentukan suatu alergi yang penting (AS-Albumin) (Anonymousa, 2010).

  1. Jagung

Upaya peningkatan produksi jagung dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain melalui perbaikan genetik tanaman. Perbaikan genetik jagung bertujuan untuk mengatasi kendala pertumbuhan tanaman, terutama cekaman lingkungan biotik dan abiotik (Sustiprijatno, 2010).Perbaikan genetik jagung dapat dilakukan secara konvensional maupun melalui rekayasa genetik (genetic engineering).

Dengan berkembangnya bioteknologi, perbaikan genetik jagung melalui rekayasa genetik akan menjadi andalan dalam pemecahan masalah perjagungan di masa mendatang. Seperti diketahui, pemuliaan secara konvensional mempunyai keterbatasan dalam mendapatkan sifat unggul dari tanaman. Dalam rekayasa genetik jagung, sifat unggul tidak hanya didapatkan dari tanaman jagung itu sendiri, tetapi juga dari spesies lain sehingga dapat dihasilkan tanaman transgenik. Jagung Bt merupakan tanaman transgenik yang mempunyai ketahanan terhadap hama, di mana sifat ketahanan tersebut diperoleh dari bakteri Bacillus thuringiensis (Herman 1997).

  1. Kentang

Penyakit Late Blight atau yang biasa dikenal hawar daun pada kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan penyakit yang sering menjadi kendala dalam budidaya kentang. Penyakit hawar daun disebabkan oleh jamur Phytophthora infestans, penyakit ini menjadi salah satu penyakit penting pada tanaman kentang di Indonesia. Saat ini di Indonesia belum terdapat varietas kentang yang tahan terhadap penyakit hawar daun, sehingga menyulitkan petani untuk menghindari penyakit ini. Namun beberapa tahun terakhir ini sudah ada usaha dari Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen), yang bekerjasama dengan beberapa lembaga penelitian baik dalam maupun luar negeri untuk mendapat calon varietas kentang yang tahan terhadap penyakit hawar daun.Varietas Katahdin merupakan kentang transgenik yang berhasil dikembangkan oleh Universitas Wisconsin yang memiliki gen RB, yaitu sebuah gen ketahanan terhadap penyakit hawar daun. Gen RB tersebut dihasilkan dari isolasi gen yang terdapat pada kerabat kentang liar (Solanum bulbocastanum) yang banyak terdapat di Amerika (Hermawan, 2007).

Untuk menghasilkan kentang transgenik tahan penyakit hawar daun, BB Biogen melakukan kerjasama dengan Universitas Wisconsin yang tertuang dalam sebuah kesepakatan (Material Transfer Agrimeent – MTA). Dengan kesepakatan tersebut, BB Biogen berhak menggunakan varietas Katahdin Transgenik untuk disilangkan dengan kentang varietas lokal. Saat ini, BB Biogen dan Balitsa tengah menyilangkan kentang Katahdin Transgenik dengan dua varietas lokal, yaitu Granola dan Atlantic. Kedua varietas lokal tersebut dipilih untuk persilangan karena varietas tersebut paling digemari petani. Selain memiliki hasil produksi yang tinggi, Granola dan Atlantic cukup laku di pasar tradisional maupun pasar swalayan (Hermawan, 2007).

Sementara itu, Dr. Achmad Suryana menjelaskan terdapat dua strategi untuk mendapatkan kentang yang tahan terhadap late blight. Pertama, menyilangkan dengan Katahdin; dan kedua dengan memasukkan atau mentransformasi gen RB ke dalam kentang. Bioteknologi transgenik ini bisa membantu ketahanan pangan karena varietasnya lebih unggul (Hermawan, 2007).

Saat ini bila diinventarisir ada sekitar 27 jenis tanaman transgenik meliputi 336 events. Membedakan pangan transgenik dan pangan alami dengan mata telanjang jelas sulit. Kecuali jika pangan transgenik tersebut memiliki ciri khas. Dengan begitu, satu-satunya cara bagi awam untuk mengenali produk transgenik ini yaitu dari label pada kemasan produk. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia memberikan petunjuk, bahwa besar kemungkinan suatu produk adalah penganan hasil rekayasa genetik jika produk tersebut tidak mencantumkan kandungannya secara eksplisit sebagai bahan organik (Putri, 2014).

Beberapa produk makanan transgenic yang beredar di Indonesia diantaranya: 1) Keripik kentang Mister Potato, produksi PT. Pasific Food Indonesia. No. Depkes BPOM RI ML 255501931081; 2) Keripik Kentang Pringles, diimpor oleh PT. Procter & Gamble Home Products Indonesia. No. Depkes BPOM RI ML 362204007321; 3) Tepung Jagung Honig Maizena, diimpor oleh Fa. Usahana No. Depkes ML 328002001014.

Berikut ini saya ulas penjelasan dari acara Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) VIII pada sekitar Tahun 2005 yang juga membahas mengenai Pangan Rekayasa Genetika. Saya copas yang relevan dengan bahasan kali ini. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) VIII menyatakan bahwa pangan rekayasa genetik dapat diterima dengan prinsip kehati-hatian, selektif, dan memperhatikan bio-etika sepanjang tidak membahayakan kesehatan dan lingkungan. Begitu juga biofortifikasi pangan melalui budidaya tanaman untuk meningkatkan kandungan dan mutu gizi pangan.WNPG VIII juga merekomendasikan untuk mengembangkan produk rekayasa lokal berdasarkan keragaman hayati lokal dengan tidak membahayakan kesehatan dan keragaman hayati, serta tidak menimbulkan ketergantungan ekonomi pada Negara lain. Rekomendasi lain WNPG VIII adalah pelabelan produk makanan yang berbahan pangan transgenik. Pelabelan itu sendiri bukan untuk menyatakan keamanan produk itu, tetapi lebih sebagai informasi kepada masyarakat agar dapat menentukan pilihan. Bila awalnya penelitian ditujukan untuk mengatasi kendala waktu pada pemuliaan konvensional, pangan produk rekayasa genetika (PRG), berkembang menjadi kegiatan komersial untuk memberi keuntungan bagi produsen maupun mutu dan nilai gizi bahan pangan yang dihasilkan. PRG pada tanaman pangan awalnya ditujukan untuk perlindungan tanaman, terutama meningkatkan ketahanan terhadap penyakit tanaman akibat serangan virus atau bakteri, atau meningkatkan toleransi terhadap herbisida.

Keamanan Pangan dan Sistem Pelabelan GMF/ PRG

INDONESIA sudah mengatur pangan hasil rekayasa genetika melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 jo Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Pasal 13 undang-undang tersebut menyebutkan bahwa a) setiap orang yang memproduksi pangan atau menggunakan bahan baku, bahan tambahan pangan, dan atau bahan baku lain dalam kegiatan atau proses produksi pangan yang dihasilkan dari proses rekayasa genetika wajib terlebih dahulu memeriksakan keamanan pangan bagi kesehatan manusia sebelum diedarkan; b) pemerintah menetapkan persyaratan dan prinsip penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan metode rekayasa genetika dalam kegiatan atau proses produksi pangan, serta menetapkan persyaratan bagi pengujian pangan yang dihasilkan dari proses rekayasa genetika. Selain itu, juga ada Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan. Pasal 35 peraturan ini mewajibkan pencantuman keterangan “Pangan Rekayasa Genetika” untuk pangan hasil rekayasa genetika. Label juga harus menyebutkan bahan PRG bila bahan yang digunakan dalam produk pangan bersangkutan merupakan hasil rekayasa genetika. Selain itu harus dicantumkan keterangan tentang pangan rekayasa genetika pada bahan yang merupakan hasil rekayasa genetika. Keterangan tersebut diletakkan pada bagian informasi label yang berisi tentang daftar kompisisi bahan. Adapun huruf tulisan atau peringatan sekurang-kurangnya sama dengan huruf pada bahan yang bersangkutan.

Contoh:

Komposisi:

Kedelai (rekayasa genetika), gula kelapa, air, garam,

pengawet Na Benzoat.

atau

Komposisi:

Kedelai (rekayasa genetika), gula kelapa, air, garam,

pengawet Na Benzoat.

Komposisi: Kedelai*, gula kelapa, air, garam, pengawet

Na Benzoat.

* bahan rekayasa genetika

Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, Australia dan Selandia Baru telah menerapkan hukum yang mewajibkan semua pangan yang mengandung bahan rekayasa genetika untuk dilabel. Dalam menerapkan peraturan ini masing-masing negara memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Uni Eropa mempertimbangkan masalah ini dalam kurun waktu tertentu dan telah menyetujui suatu tingkat ambang batas (treshold) minimal yaitu 1%. Ambang batas minimal diterapkan secara terpisah pada setiap bahan (komposisi) yang digunakan dalam produk, dan hanya pada situasi dimana adanya materi rekayasa genetika tidak disengaja.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, melalui Komisi Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan (KKHKP) telah menyusun tata cara pengkajian keamanan pangan PRG dan tata cara ini telah digunakan untuk mengkaji keamanan pangan PRG. Pengkajian keamanan pangan GMF menyangkut informasi genetik dan informasi keamanan pangan. Informasi genetik berupa deskripsi umum pangan GMF, deskripsi inang dan penggunaannya sebagai pangan, deskripsi organisme donor, deskripsi modifikasi genetic, dan karakteristik modifikasi genetik. Sedangkan informasi keamanan pangan meliputi: kesepadanan, substansial perubahan nilai gizi dibandingkan dengan pangan tradisional, kemungkinan menimbulkan alergi dan toksisitas “Untuk Indonesia, ambang batas yang ditetapkan adalah bila terdapat lebih dari lima persen bahan mengandung GMF, maka harus dicantumkan dalam label. Dengan cara ini konsumen mendapat informasi dan bias melakukan pilihan.

Saat ini status pangan transgenik Indonesia menunggu rekomendasi atas hasil kajian keamanan pangan untuk kedelai dan jagung toleran glifosat. Kewajiban pelabelan pangan PRG dilakukan setelah ada rekomendasi status keamanan tanaman tersebut. Penelitian untuk menghasilkan pangan hasil rekayasa genetika pun tengah dilakukan antara lain oleh LIPI dengan sejumlah persyaratan ketat. Untuk mengantisipasi kontroversi mengenai produk rekayasa genetika masih akan berlangsung, tetapi di sisi lain juga ada kebutuhan untuk tidak bergantung pada pihak luar, rekomendasi WNPG VIII tentang dikembangkannya penelitian produk rekayasa genetika lokal perlu disikapi dengan arif tanpa semata-mata bereaksi menolak. Karena kenyataan yang sudah terjadi adalah bila tidak mengembangkan produk rekayasa genetik sendiri, Indonesia akan menjadi konsumen produk rekayasa genetik yang diproduksi negara lain atau perusahaan multinasional.

Laboratorium Pengujian Produk GMO – GMF

Di Indonesia penetapan standar atau sertifikasi harus dilakukan oleh laboratorium atau lembaga sertifikasi yang memiliki kualifikasi tertentu yang telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) dimana lembaga/ laboratorium yang dimaksud satu-satunya diresmikan pada Agustus 2007 yaitu Saraswanti Indo Genetech (SIG). SIG diakreditasi oleh KAN berdasarkan ISO/IEC 17025:2000, dan dikategorikan sebagai laboratorium pertama di Indonesia yang terakreditasi KAN untuk ruang lingkup uji analisis produk GMO – GMF secara kualitatif dan kuantitatif.

Kesimpulan

GMF merupakan makanan yang dihasilkan dengan menggunakan teknik modifikasi genetika. Modifikasi atau rekayasa genetika merupakan kegiatan memanipulasi materi genetika dengan teknik biokimia dan bioteknologi modern. Hasil rekayasa genetika dapat berupa hasil tanaman, ternak, dan ikan dalam bentuk varitas/ klon/ jenis baru yang mempunyai sifat unggul tertentu. Kontroversi terhadap pangan transgenic masih terjadi, karena sebagai produk teknologi baru resiko jangka panjangnya belum diketahui. Produk transgenic yang telah beredar di pasaran atau hanya digunakan sebagai bahan baku perlu diberi labeling secara jelas dan jujur. Namun kenyataannya di lapangan hal ini belum terlaksana, sehingga muncul pertanyaan apakah produk transgenic aman bagi kesehatan manusia apabila dikonsumsi? Keputusan untuk memilih produk transgenic diserahkan sepenuhnya kepada konsumen atas pertimbangan matang terhadap kerugian dan keuntungannya serta dampak yang akan ditimbulkan. (Cholifah, SP)

Referensi:

Agustini, Ni Putu, 2011. Aspek Keamanan Pangan Genetically Modified Food (GMF). Jurnal Ilmu Gizi Volume 2 Nomor 1, Februari 2011: 27-36. Jurusan Gizi Poltekkes Denpasar.

Fardiaz, Dedi, 2006. Teknologi Iradiasi Untuk Meningkatkan Keamanan Pangan. Risalah Seminar Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi. Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Hetami, Kamila, 2009. Pelabelan Produk Pangan Yang Mengandung Bahan Rekayasa Genetika Sebagai Wujud Asas Keterbukaan Informasi. Tesis. Universitas Diponegoro. Semarang.

You must be logged in to post a comment.